Sebelum kita bisa berteman dengan seseorang, pastinya kita harus mengenal mereka terlebih dahulu, betul? Yuk, kita sama-sama belajar untuk mengenal lebih lagi apa itu autisme agar kita semua bisa menjadi Teman Autis!

Autisme adalah istilah untuk menjelaskan kondisi neurodevelopmental disorders (gangguan perkembangan neurologis) seseorang.

Beberapa kriteria autisme yang terlihat pada usia perkembangan anak adalah:

  1. Mengalami kesulitan dalam memfokuskan perhatian atau hyper-active impulsive
    Contoh perilaku:
    • Tidak merespon pada saat dipanggil
    • Mengalami kesulitan pemahaman dalam komunikasi non-verbal seperti sulit memahami raut wajah atau perasaan orang lain.
    • Mengalami tantangan atau kesulitan dalam berinteraksi sosial dua arah seperti sulit melakukan kontak mata selama berkomunikasi
    • Kurangnya kemampuan / kreativitas untuk berkomunikasi walaupun belum bisa berbicara (mengutarakan maksud dengan gerakan)
  2. Perilaku repetitif yang tidak umum dalam behavior, minat, atau kegiatan-kegiatan
    Contoh perilaku:
    • Gerakan menggerakan anggota tubuh yang berulang-ulang
    • Memiliki minat kuat terhadap satu hal dan tidak dapat dialihkan
    • Bersikap rigid (terpaku pada jadwal/kebiasaan/pola)
  3. Kesulitan berbicara/lambat berbicara
    Contoh perilaku:
    • Sampai usia 2 tahun belum dapat berbicara/kesulitan berbicara
  4. Masalah sensori tertentu
    Contoh perilaku:
    • Tidak mau menginjak rumput
    • Tidak mau menyentuh tekstur tertentu

Perlu diperhatikan bahwa jika anak menunjukkan sebagian dari gejala diatas, tidak berarti anak memiliki kondisi autisme. Namun jika anak menunjukkan seluruh gejala diatas, anak kemungkinan besar memiliki kondisi autisme.

Tentunya, pemeriksaan lebih lanjut sangat diperlukan untuk memastikan diagnosis tersebut.

Autisme adalah kondisi yang relatif umum. Sebagai gambaran :

  • 1 dari 100 orang di dunia mengalami kondisi autisme. Di Amerika Serikat, 1 dari 54 orang mengalami kondisi autisme.
  • Lebih lanjut, sekitar 80% anak yang dibawa orang tua ke Psikolog anak mempunyai kondisi terlambat bicara. Kondisi terlambat bicara adalah salah satu kriteria autisme, perlu diobservasi lebih lanjut.

Para ahli memastikan bahwa autisme bukan disebabkan oleh 1 faktor saja, melainkan beberapa faktor sekaligus. Masih belum ada penyebab yang 100% terverifikasi.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat memperparah anak dengan kondisi autisme:

  1. Ketidaktahuan orang tua tentang intervensi dini dan cara stimulasi.
  2. Pemakaian gadget untuk anak-anak usia di bawah 2 tahun.
  3. Stress pasca-persalinan pada orang tua.

Secara umum, autisme dapat dibagi menjadi 3 tingkat, yaitu:

  1. Level 1 (membutuhkan bantuan)

    Tanpa adanya bantuan, anak mengalami kesulitan dalam komunikasi sosial. Misalnya : seseorang yang dapat berbicara dalam kalimat penuh dan berkomunikasi dua arah tetapi seringkali gagal dimengerti, dan usahanya dalam berteman tampak janggal dan biasanya tidak berhasil.

  2. Level 2 (sangat membutuhkan bantuan)

    Dengan adanya bantuan, anak tetap terlihat kesulitan dalam komunikasi sosial. Misalnya seseorang yang dapat berbicara dalam kalimat sederhana, yang interaksinya hanya terbatas pada komunikasi sederhana, dengan kesulitan pada komunikasi non verbal.

  3. Level 3 (sangat amat membutuhkan bantuan)

    Anak mengalami kesulitan berat dalam komunikasi sosial.
    Misalnya : seseorang yang sedikit berbicara jarang memiliki keinginan untuk memulai interaksi, menunjukkan pendekatan yang tidak umum untuk memenuhi kebutuhannya dan hanya merespon apabila ada komunikasi sosial langsung terhadap dirinya.

Diagnosa ini tidak dapat dilakukan sendiri, anak harus didiagnosa oleh professional.

Apabila ada kecurigaan bahwa anak anda memiliki kondisi autisme, lakukan beberapa langkah berikut ini:

  1. Lakukan cek mandiri di rumah, sebagai berikut:
    1. bunyikan kerincingan di samping/belakang anak. Perhatikan apakah anak memberikan respon terhadap bunyi kerincingan tersebut.
    2. berikan beberapa mainan dan pancing anak untuk berimajinasi. Perhatikan apakah terpaku pada cerita dari orang tua atau anak bisa mengembangkan imaginasinya sendiri.
    3. coba tunjuk ke arah tertentu. Perhatikan apakah anak mengikuti arah yang ditunjuk.
  2. Apabila anak tidak merespon di ketiga cek mandiri diatas, segera lakukan konsultasi lebih lanjut ke psikolog anak.

Catatan tambahan dari tim Teman Autis:

  • Apabila anda ingin lakukan pengecekan deteksi autisme secara online, klik disini.
  • Apabila anda ingin melihat klinik atau tempat terapi yang dekat dengan anda, klik disini.

Autisme adalah kondisi yang dapat diatasi, bukan penyakit yang dapat disembuhkan 100%. Tidak ada obat yang dapat menyelesaikan kondisi autisme secara cepat, tetapi kondisi autisme dapat diatasi dengan terapi yang tekun sesuai dengan tingkat autismenya.

Meskipun ada kemiripan, autisme berbeda dengan ADHD. Perlu diketahui bahwa 70% individual dengan kondisi autisme juga memiliki kondisi gangguan lain, dan 40% diantaranya mungkin memiliki 2 atau lebih kondisi gangguan lain). Apabila hasil diagnose anak menyatakan anak memiliki kondisi autisme dan ADHD, kedua diagnosa tersebut perlu mendapatkan perhatian.

Kita juga bisa mendukung mereka dengan cara mensosialisasikan ke orang-orang terdekat kita dan masyarakat umum bahwa autisme bukanlah penyakit dan tidak menular. Dengan adanya sosialisasi, akan tercipta diskusi yang diharapkan bisa membuat lebih banyak orang untuk mau mengenal dan mengerti tentang individu dengan diagnosa autisme

Ketika masyarakat umum lebih mengerti tentang autisme, akan ada peluang yang lebih tinggi untuk terciptanya lingkungan yang baik untuk para individu dengan diagnosa autisme di tengah masyarakat umum.

Individu dengan autisme memang berbeda, tetapi bukankah kita dengan orang-orang terdekat kita pun juga berbeda? Alangkah baiknya jika kita semua bisa lebih fokus bukan kepada perbedaan dari setiap kita, tetapi lebih kepada kesamaan yang kita punya.

Sumber:

  • Anastasia Satriyo M.Psi., Psikolog merupakan Psikolog Klinis Anak dan Remaja lulusan Universitas Indonesia dan menempuh pendidikan S1 di Fakultas Psikologi Atma Jaya. Sejak tahun 2016 menangani kasus tumbuh kembang, emosi dan deteksi anak berkebutuhan khusus maupun anak dengan masalah Gangguan Pemrosesan Sensori (Sensory Processing Disorder). Di Tahun 2017 Anastasia mengambil seritifkasi Therapeutic Play Trainee dari Cipta Aliansi Edukasi Indonesia yang berafiliasi dengan Academy of Play and Child Psychoterapy (APAC) di Inggris.
  • Buku Diagnosic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM-5) – American Psychiatric Association
Kritik & Saran
Kerjasama dengan TA
Iklan Tes Deteksi
Ads on us